Saturday, 30 May 2009

Song Of The Week = Cut Dead - The Jesus & Mary Chain

What can I do
It's gotten me beaten black and blue
Why don't you know
You got me moving much too slow
Why can't you see
You got me chasing honey bees
You made me fall
Broke me up and took it all
Call me your messed up boy

Just what I've found
You knock my body to the ground
Just what I've said
You're tearing up my weary head
Do I still shine
After such a lonely time
You cut me dead
You nail me down and kick my head
Cut dead your messed up boy

hey hey hey
hey hey hey
hey hey hey







Wednesday, 27 May 2009

Morrisey's Year of Refusal





Hmm, personally, saya wajib membeli album kesembilan Paman Morrissey ini. Kenapa? Alasan pertama, Decca/Polydor Records dengan keberaniannya mendistribusikan album ini di Indonesia. Which meeee..aans, it costs as normal as two pieces of local CD. Sebelumnya tahun lalu mereka juga merilis album ‘The Greatest Hits’ di Republik ini (suit.. suiiit).

Kedua, the most essential reason is, album ini merupakan album pertama yg mana saya berada pada ‘jaman’ nya, karena bahkan saat Ringleaders of The Tormentos (2006) rilis pun saya sama sekali belum menyimak The Smiths/Moz (gyahaha. Poor me!), adalah kemunafikan jika mengaku sebagai Mozer garis keras jika tidak mengapresiasi (baca: menghargai) karya beliau.

Yak, CD telah dimasukkan, dan mengalunlah track pertama: Something Is Squeezing My Skull. Ooowwhh, Hey Moz...!!! You perfectly deliver me a kinda strong-catchy number that consists of head-shakin’ drumbeat, heart-pumpin’ bass line dan tentu saja lirik aduhai nan membekas di hati. Coba simak, diiringi riff gitar modern rock, dari awal Moz sudah menghajar mereka yang merasa ‘kalah’ dengan: ”... I'm doing very well, I can blackout the present and the past now, I know by now you think I should have straightened myself out..!” Seperti ingin membuktikan bahwa di usianya yang beberapa minggu lagi mencapai setengah abad bahwa ia belum habis! Kualitas vokal Moz terdengar sangat prima di nomor ini, i salute it so! Nomor ini ditutup dengan repetitif outro dimana Moz mengucapkan “don’t give me anymore” secara janggal (tergesa-gesa layaknya nomor klasik Interesting Drugs), namun disusul sahut-menyahut dengan penyanyi latar. Yeah!! It feels like pedagang kaki lima yang dikejar-kejar kamtibnas kala razia, tetapi sembari menggenggam jemari Justine Frischmann.
























Mama Lay Softly on The River Bed terdengar seperti mars tentara perang teluk, namun diisi dengan lirik kesepian(pola andalan 'ironic lyric-but-the music-was-arranged-strangely happy/upbeat). Yes, he is best-known for this specialization, sebut saja lagu macam Girlfriend in a Coma, We Hate it When Our Friends Become Successful, I Don’t Mind If You Forget Me, you name it, lads!
Mari membahas track ke-4 yang merupakan single pertama album ini, I’m Throwing My Arms Around Paris. Dimulai dengan deru starter mesin motor yang saya yakin Vespa, lagu ini saya prediksikan akan menjadi the-next-Alma Matters/You’re The One For Me Fatty/Suedehead/The Last of The Famous International Playboys karena memenuhi semua syarat untuk menjadi Morrissey’s timeless-numbers, yaitu: multi-interpretatif lirik, aroma pembiasan gender, dan perpaduan aransemen ciamik dengan cengkok vocal yang tak lazim. Hey Dodi! Belajarlah dari beliau kalo kamu memang terobsesi pada lagu-lagu patah hati! (You know pretty well which ‘Dodi’ that I mean, Lads). Bersama All You Need Is Me(#5) dan That’s How People Grow Up(#7), saya tidak akan menyangkal angka pertumbuhan fans nya akan merangkul ‘millennium-facebook-minded-teenagers’.



Album ini kembali diproduseri oleh tangan dingin ‘produser mainstream’ Jerry Finn(1969-2008), who is well known for his co-works with Blink 182, Green Day, Rancid and other American punk-rock bands, previously dia juga menyumbang andil besar pada karir Morrissey dengan memoles Morrissey’s comeback album, You Are The Quarry(2004). Almarhum Jerry Finn patut bersyukur bahwa album ini menjadi karya terakhirnya.
Sedikit disayangkan, dalam Years of Refusal Morrissey tampak berusaha hidup tenang dengan tidak membuat lagu beraroma politik (lagi) seperti The Queen is Dead, Interesting Drugs, America is not The World, The National Front Disco, etc (gosipnya sih lagu terakhir membuat beliau pindah domisili ke Amerika). Furthermore, rilisnya album ini di awal tahun seakan memberi angin segar pada industri rekaman hingga tidak heran banyak media yang memberi rating yang menurut saya, mmmh.. too-overrated (AllMusic, The Observer, Spin dan Uncut memberi rating 4/5).

Halah, persetan dengan rating. In my opinion, this charming old-man totally has the pleasure of meaning what he sings. Sekian dan terima kasih. Ga nyoblos ga dosa (hahaha..! *uups).

Saturday, 27 December 2008

There She Goes Lyric (performed by The La's)

There she goes
There she goes again
Racing thru' my brain
And I just can't contain
This feelin' that remains
There she blows
There she blows again
Pulsing thru' my vein
And I just can't contain
This feelin' that remains
There she goes, there she goes again
She calls my name, pulls my train
No-one else could heal my pain
And I just can't contain
This feelin' that remains
There she goes
There she goes again
Chasing down my lane
And I just can't contain
This feelin' that remains

Friday, 26 December 2008

Meeting one person/hour is easy

Meeting people is easy?
*yeah..
Are u sure?
*yeah, fer sure! (Lost a bit temper)
Be honest, bollocks!
*hey, ok computer, do i have to retell?
Is she fer real? (Point his pointfinger at some pics on monitor)
*well, she is.. She lives near here..





- This stupid dialogue had been inspired by Radiohead's rockumentary DVD: Meeting people is easy; Thom Yorke's nerd-homy-antisocial-broadminded personality; and of course, a bit time of conversation on that gloomy afternoon when we talked about nowaday shite of living.
If Modern living provides us such a plenty disorders, why do we need any extra social-shite-website's accounts?

Friday, 28 November 2008

1958-2008 (A Half Decade of Yeeeeaaah.. Yeaaah… Yeaaah)

“…You say you got a real solution, well you know
We'd all love to see the
plan
You ask me for a contribution, well you know
We're all doing what
we can...
But if you want money for minds that hate
All I can tell you
is brother you have to wait
Don't you know it's gonna be...
You say
you'll change the constitution, well you know
We all want to change your
head
You tell me it's the institution, well you know
You better free
your mind instead
But if you go carrying pictures of Chairman Mao
You
ain't gonna make it with anyone anyhow...
Don't you know it's gonna be...”





50 tahun. Yeah, lima dekade atau setengah abad sudah berlalu semenjak John ngajak Paul buat maen di band nya. Yang kemudian bersama Pete pada drum, Stuart pada bass, Paul dan John pada gitar. Formasi awal inilah yang menjadi cikal bakal sebuah band yang akan dicatat sejarah sebagai kumpulan pemuda miskin dari kota pelabuhan Liverpool yang menjadi ikon budaya pop yang paling dikenang dunia.
Yup, Paul kemudian berhasil merayu John agar mau memasukkan George ke dalam band. Meskipun bertahun-tahun kemudian George membenci mati-matian sikap egomaniak dan super perfeksionis Paul yang parah. Lihat film ‘Give My Regard to Broadstreet’. Disitu keliatan betul kalo Paul memaksakkan diri dengan mengisi semua soundtrack film!
Kemudian sejarah mencatat kota pelabuhan Hamburg di Jerman sebagai kota pertama outside The Kingdom yang berhasil dikunjungi Beatles untuk bermain musik.
Lantas paska periode Hamburg, Stuart Sutcliffe lebih memilih Astrid (fotografer Beatles kebangsaan Jerman di Hamburg) sebagai pelabuhan hatinya dan dunia melukis surealis sebagai tambatan jiwanya, meski gw yakin dari 100 orang di Indonesia yang hari ini make kaos Beatles, hanya sepuluh dari mereka yang mengetahui fakta ini (call me ‘belagu’! Whatever! Shite Life!)
Yup, mereka kemudian mendepak Pete, (entah hoax atau bukan, gw pernah denger dari beberapa literatur kalo Pete didepak karna rambut nya yg too curly). Hahaha, poor Pete! Bahkan demo Love Me Do pun masih mencatat pete di pengisi drum. Mereka akhirnya mendapatkan seorang drummer kidal nan flamboyan bernama Richard Starkey, drummer grup Rory Storm & The Hurricanes yang sering keluyuran dari satu bar ke bar lain nya di Liverpool.
Lantas sukses pula Brian Epstein sang manajer homo itu (gw yakin dari 100 orang di Indonesia yang hari ini make kaos Beatles, hanya sepuluh dari mereka yang mengetahui fakta ini, haha) mencetak imej manis The Fab dengan setelan black suit-three buttons-nya.
Dan invasi mereka ke Amerika tinggal menunggu hitungan jari. Publik Amerika khususnya para gadis pun senang.

Bahwa kemudian album Sgt. Peppers sampe detik ini masih ditasbihkan majalah Rolling Stone sebagai album Ter-Maha Dahsyat di dunia merupakan suatu keharusan karena kelahiran orang-orang dengan otak dan hati macam John, Paul, George dan Ringgo cuma terjadi sekali dalam 1000 tahun.


Enough is too much.
Gw ga akan nulis sejarah atopun musikalitas mereka yang virtuoso itu! Ya, jaman segitu orang ga akan berpikiran untuk ngerekam rilisan macam Revolution #9 yang make metode reverse recording (teknik merekam suara dengan cara dibalik). Yang gokilnya lagi, jika kamu memutar lagu itu dari belakang, ternyata bukan hanya suara musiknya saja yang berubah, tapi di barisan vokal pun terangkai lirik aneh yang diantaranya berbunyi ‘Turn me on Dead man!’ berkali-kali… Gokil!!

Stop stop stop! As I said enough is too much, gw ga akan nyoba ngulik lagi musikalitas mereka. Lha wong saya ini amatiran kok. Nyetem gitar aja selalu ngaco.
Anyhow, tiap kali gw puter lagu hey Jude, ingatan gw akan kembali ke masa kecil gw. Saat pertama kalinya gw denger rekaman beatles. Si suatu malam waktu bokap masi kerja kantoran. Pulang-pulang gw ma ade gw ngira dia bawa martabak, atau donat dunkins, atau nasi uduk Mat Lengket, atau maenan Lego, atau apa pun itu yang diidam-idamkan bocah esde tiap nungguin bapaknya pulang kantor, beliau bawa sekeping Laser Disc Karaoke The Beatles.

“Bawa apaan pak?” kata gw ama Tirtha antusias.
“Bapak bawa lagu kebangsaan bapak”, sambil buka kresekan yg dia pegang.

Oke, bilang gw mengada-ada ama jawaban bokap gw tadi. Tapi semua orang juga paham kalo ingetan anak kecil laksana memahat di atas batu. Kemungkinan bakal keapus nya susah. Gw yakin dan paham betul akan hal itu. Akan kekuatan ingat seorang anak kecil sama betapa Beatles udah mengisi lebih dari separuh kekayaan input musik keluarga kami.
Suatu waktu gw pernah buka-buka kaset-kaset Beatles koleksi bokap. Di kaver kaset gw nemuin puisi yg bokap bikin buat nyokap. Anjrit kata gw! Sebagai seorang babyboomers bokap gw udah melakukan hal yg benar dengan mengkoleksi materi-materi The Beatles. Alih-alih mengkoleksi rekaman-rekaman dangdut. Seiring mengalun-nya Hey Jude dari LD player keluarga, maka dimulailah perjalanan melodius gw dalam menghayati materi-materi mereka.
Betapa kagetnya pikiran bocah gw kenapa pahlawan-pahlawan gw bisa muncul di tipi (ya, di umur yang belon genap satu dekade gw udah mendeklarasikan diri sebagai beatlemania), kalo ga salah waktu itu RCTI pernah nayangin film Help atau entah A Hard Day’s Night. Gokil kata gw! Mereka ternyata juga pemaen pilem! Yah, lagi-lagi gw cuma bisa bilang betapa suksesnya The Beatles mempesonakan imaji gw. Dan ingat, itu waktu umur gw belon genap sepuluh. Birahi pun gw ga tau. Catat itu.
Lantas dalam suatu perjalanan. Kalo ga salah waktu itu ade gw baru dua. Dan di tape player mobil kami udah sukses terisi kaset beatles.
“Pak, itu The Beatles namanya siapa-siapa aja sih pak?”, dan bokap gw pun menyebutkan nama para pahlawan gw itu atu-atu.
“Brati sekarang sekarang udah pada tua ya pak?”,
“Iya lah”, bokap gw jawab santai.
“Itu yang nyanyi namanya siapa pak?”,
“Itu John”,
“Emang dari negara mana sih Pak?”
“Inggris”
“John masi idup pak? Kok di Laserdis tampangnya berubah-ubah, kadang pake setelan jas, tapi ada juga yang gondrong dan jenggotan gitu?”
“Lah itu kan yang di Laserdis orang-orangnya bukan asli, Jar. Itu cuma orang-orang yg mirip/dimirip-miripin ama mereka biar bisa dijadiin Laserdis karaoke”.
(Inget, jaman itu/pertengahan 90-an media elektronik maupun internet belum secanggih sekarang. Just one single clicking on yer shite mouse and you can find out many things you want to know. Jaman itu mana bisa gw buka wikipedia? Lagian gw cuman bocah esde printilan penggemar batagor).
Eh trus bokap gw ngomong hal-hal yg gw sesali udah gw ketahui di fase-fase awal gw ama The Beatles,

“The Beatles udah bubar”
……………….
……………….
……………….
MAMPUS KATA GW!!!!
……………….
……………….
……………….
“John mati ditembak”.
……………….
……………….
……………….
……………….
Dunia khayal gw pun tsunami.


Wuuuuuuuuuuuusssshhh.


Anjing kata gw! Kenapa gw harus tau secepat ini sih?


A*%#$*)(fuc*6%^%&?L::”l,’*!!!!!!


Ditembak pula?



Ah, ngehe betul!






Menyimak materi-materi serta perjalanan hidup tiap personilnya udah gw anggap sebagai pelajaran filosofis berharga. Seberharga sebiji gorengan kala gw laper dan cuman nyekel duit tiga rebu.
Bahwa kemudian John bersama Yoko semakin tenggelam dalam kehidupan aktivis mereka kontra invasi Amerika terhadap Vietnam menyadarkan gw bahwa seegois-egoisnya kamu hidup, seperih-perihnya hari yg kamu alami, sepahit-pahitnya romantika percintaan yg kamu derita, toh kamu akan dan harus meluangkan sedikit waktu meski sedetik buat kemanusiaan, humanity. Bahwa kita idup itu ga sendiri. Oke kalo kamu ngaku anak emo, berponi lurus meski kudu rebonding dulu, bercelana jeans hitam super ketat dan suka jejeritan bersenandung lagu-lagu dari ben bertampang sangar melengking cengeng macam The Used maupun As I Lay Dying kala diselingkuhin pacar kamu, i just wanna say:
“Matiin mp3 player made-in-China-mu! Tengok keluar jendela kamarmu! Berapa orang yg di meja makan-nya belum terhidang lauk apa pun! Bahkan meja makan pun mereka ga punya! Ga usah jauh-jauh, mereka yg ga punya meja makan dan tidur berdesak-desakkan di satu kasur reyot mungkin tetangga kamu! Atau mungkin teman sekolah/kampus yang duduk beberapa meja di belakang kamu! Open yer eyes, lads.”
Ga penting sih sebenernya, cuman tadi siang sehabis kuliah gw menyempatkan diri untuk liat pameran fotografi rezim otoriter junta militer di Myanmar yg diadain di kampus, setelah melihat-lihat foto dengan amat sekedar, mata gw langsung tertuju pada secarik kain putih yg disediakan panitia buat coret-coret sebagai wujud keprihatinan. Gw langsung ngambil spidol dan alih-alih nulis hal-hal ga penting macem, add my FS on, atau nulis nama preman gw, gw menulis anthem anti perang John yg Maha Sakral itu, GIVE PEACE A CHANCE (JOHN LENNON).
Lalu bicara tentang Paul, yang menurut John, hampir separuh pola permainan bass yang ada saat ini adalah warisan Paul, orang yang amat bertanggung jawab dalam mengendalikan kemudi The Fab paska rehat dari tur panjang di tahun 1966 dan paska kematian Brian Epstein. Orang yang masih bisa berpikir jernih kala teman-teman nya mabuk LSD. Orang yang masih bisa menghasilkan lebih dari 30 album paska The Beatles. Satu-satunya orang yang berhasil membuat single Mull of Kintyre yg lantas menjadi satu-satunya single milik personil The Fab yg berhasil mengalahkan seluruh penjualan single Beatles. Meskipun kemudian Eyang Paul berbuat bodoh berkolaborasi dgn biduan penolak takdir-pengidap disorientasi seksual bernama Michael Jackson.
Kontak saya jika kamu penasaran dan ingin ctrl+c –> ctrl+v album solo/bersama The Wings milik Paul yang berjumlah lebih dari 30 album itu dari harddisk komputer saya. Jika media transfer kebanggaan kamu hanyalah DVD blank atau flashdisk 2gb, lebih baik pulang dan bawa media penyimpanan yg lebih besar karena total space nya berjumlah 5.48gb.
Lalu George pun makin tenggelam dalam karya-karya dan dunia spiritualitas nya yg konseptual. Bahwa kemudian ia percaya akan adanya reinkarnasi. Sampai kasus hak cipta lagu My Sweet Lord. Adalah fakta menarik kalau satu-satunya kagu Beatles yg dikaver Elvis Presley adalah lagu Something yang diciptakan dan dilantunkan George. Ketimbang larut dalam arus showbiz yg mengikat dan menyesat, George lebih memilih tenggelam bersama Maharishi Guru dalam menyelami karma.
Kemana kabar Ringgo? Owh, gw rasa paska periode beatlemania dan kegagalan proyek ‘Ringgo and His All-Stars Band’ nya dia kembali asik menikmati keglamoran dunia selebriti. Sayang gw belum sempet mengunduh film ‘Caveman’ yg dia jadi bintang utamanya. Keputusan tepat karena jika sudah menjadi drummer peyot, beberapa kegagalan album solo dan mempunyai warisan berharga bernama The Beatles, maka satu-satunya pilihan di masa tua adalah menikmati hidup. Betul kan?




Adalah suatu keindahan mengikuti pertengkaran mereka.

John yg kesal karena Paul seenaknya mengumumkan bubarnya The Beatles menuduh bahwa hal itu dilakukan Paul buat mendongkrak album solo perdana Paul. John berkali-kali sesumbar tentang avant-garde art, yg kemudian dibantah Paul bahwa dari keempat Beatles dialah yg pertama kali bersentuhan dengan dunia seni avant-garde, seperti manakala Paul mengakui bahwa Beatle pertama yg dihubungi Yoko untuk membuka (mengangkat pamor kalo gw rasa) pameran lukisannya adalah Paul, namun berhubung Paul ga terlalu percaya ama selera seni Yoko, ia lantas memberi kontak John pada Yoko. Mungkin Paul jengah akan tingkah John dan Yoko yg sok ‘ngartis’.
Mungkin George sempat ngebantu John buat garap beberapa album solo-nya, seperti saat ia terlihat duduk bersama avant-garde artist saat John dan Yoko ngampanye-in Bed Peace yang fenomenal. George selalu menganggap John pemimpin, bahkan kakak. Tapi John toh kesal kenapa di autobiografi George, George sama sekali ga nyinggung keberadaan John. Seorang John Lennon yang megalomania.
“Peluang terbaik dalam karirku adalah menjadi anggota The Beatles pada tahun
1963. Peluang terbaik kedua sejak itu adalah keluar dari The Beatles”, kilah
George filosofis.

Kesemrawutan hubungan mereka membuat gw berpikir untuk ga pernah berpikiran/bilang: “Tuh si Anu temen deket gw banged tau”, yah, hal-hal semacam itu lah. Secara harfiah, karena pada dasarnya manusia tuh makhluk oportunis. Semua. Daripada tau-tau ditusuk dari belakang. Asumsi kedua adalah, ga ada persahabatan yang abadi, ga ada persaingan yang abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi. Percayalah. Gw suka jengah aja kalo liatin orang-orang (khususnya perempuan) yang kemana-mana bareeeeng mulu.
Kalo kata Morrissey, “We hate it when our friends become succesfull”. Kalo udah deket banged, trus tau-tau ada hal sepele, selamanya kamu ga akan bicara ama sobat kamu itu. Banyak lah kasusnya, gampangnya kaya retaknya hubungan Morrissey-Johnny Marr, atau Ian Brown-John Squire. Padahal kedua pasangan itu udah banyak buat hal-hal fenomenal buat perkembangan musik Inggris pada dekade 80-an.
Kembali ke Beatles, paska kematian tragis John di ujung 1980, rumor yang mengatakan bahwa mereka akan reuni otomatis terhenti. Iyalah. Jelas itu. Taun 1994 mereka (Paul, George dan Ringgo) gabung lagi buat ngerilis The Beatles ‘Anthology’ yg berisi single-sigle terbaik mereka, serta dua lagu yang belum dirilis pada periode beatlemania; ‘Real Love’ dan ‘Free As A Bird’.
Stop dreaming. I am a Beatle Mania but I never wished a foolish things like,
“Ooh I wish I were born in 50’s”, or,
“Oh, why did u passed the world away so fast, John?”, or,
“I am the reancarnation of John Lennon”, as what Liam Gallagher of Oasis did.

Yaah, hal-hal semacam itu lah. Karena Paul pernah merilis lagu keren yang pas buat ngegambarin hal ini. Live and let die. Yang berlalu biar lah berlalu, masa depan pun belon jelas kaya apa/mu jadi apa, jadi hiduplah untuk hari ini.



To John, Paul, George and Ringgo:


Thanks for giving me such a ways to face every pains,
Thanks for letting me grasp a bouquet of rose called: Loving,
Thanks for teaching me raise my eyebrow while knowing challenges,and pressures,
Thanks for making me closed my eyes rather than crying when knowing that not every smiles is genuine.







“..Living is easy with eyes closed
Misunderstanding all you see
It’s
getting hard to be someone but it all works out
It doesn’t matter much to
me..”